Rabu, 07 September 2016

INCOME TERUS MENGALIR

SUMUR USMAN BIN AFFAN Pada Jaman Islam baru berkembang, Di tempat kelahiran islam yaitu Mekkah, dimana penduduk yang baru memeluk islam ... thumbnail 1 summary

SUMUR USMAN BIN AFFAN

Pada Jaman Islam baru berkembang, Di tempat kelahiran islam yaitu Mekkah, dimana penduduk yang baru memeluk islam mendapat tantangan yang berat dari penduduk Mekkah yang masih menyembah berhala. Oleh karena pada awal-awal perkembangan Islam terus mendapat tantangan, dan banyak kaum muslim yang mendapat siksaan, maka Nabi Muhammad SAW memerintahkan kaum muslim yang tertindas untuk berhijrah, salah satunya adalah ke Madinah.
Setelah melakukan hijrah ke Madinah, jumlah kaum muslim di Madinah terus bertambah banyak. Kaum muslim di Madinah awalnya sedikit mengalami kesulitan, yaitu kesulitan akan akses air jernih, karena salah satu kebutuhan yang mendesak dan harus terpenuhi adalah kebutuhan air yang biasa diambil dari sumur. Kebetulan pada waktu itu sumur terbesar dan terbaik adalah Bi’ru Rumaat. Sebuah sumur yang ternyata tidak pernah kering sepanjang tahun, dan sumur itu dimiliki oleh seorang Yahudi yang terkenal pelit dan oportunis.

Karena sumur yang dimilikinya strategis dan bernilai tinggi, maka orang yahudi tersebut menjual air kepada penduduk Madinah, dan setiap hari orang-orang di madinah, termasuk kaum muslim yang hijrah harus antri untuk membeli airnya. Dengan sewenang-wenang si yahudi dapat menaikkan harga airnya dengan seenaknya sendiri, dan dengan terpaksa warga Madinah termasuk kaum muslim yang hijrah terpaksa harus tetap membelinya, karena disaat sumur-sumur lain di kota Madinah kering, sumur milik yahudi ini yang tidak pernah kehabisan air didalamnya.

Karena melihat kenyataan ini, maka Nabi Muhammad SAW berkata, “Kalau ada yang bisa membeli sumur ini, balasannya adalah Surga”. Maka seorang sahabat nabi yang bernama Usman bin Affan yang tergerak hatinya dan mengharap Surga yang tampil untuk melakukan tindakan dan menyambut janji Nabi Muhammad SAW yang selalu tepat kebenarannya. Sahabat Usman bin Affan menawar untuk membeli sumur milik si yahudi, tentu saja tawaran tersebut ditolak oleh si yahudi pemilik sumur. Karena dia berpikir, ini adalah bisnisnya, dan ia bisa mendapatkan uang yang banyak dari keuntungan menjual air dari sumurnya.

Tapi sahabat Usman bin Affan adalah seorang pebisnis yang ulung dan ulet, beliau juga terkenal sebagai seorang negosiator yang handal. Setelah tawaran awalnya ditolak oleh si yahudi, sahabat Usman bin Affan tidak patah semangat, ia berkata: “Aku akan membeli setengah dari sumurmu dengan harga yang pantas. Jadi kita bergantian menjual air, hari ini kamu, besok saya.” Melalui negoisasi yang sangat alot, maka akhirnya si yahudi pemilik sumur setuju untuk menjual setengah sumurnya kepada sahabat Usman bin Affan, yang dimaksud dijual setengah adalah hari ini air sumur dijual atas nama si yahudi, maka esok harinya dijual atas nama sahabat Usman bin Affan, demikian seterusnya.

Apa yang terjadi setelah perjanjian itu disepakati? Ternyata si yahudi mengutuk dirinya sendiri karena bertindak bodoh, rakus tanpa perhitungan, sehingga membuat dirinya sendiri mengalami kekalahan dan kerugian. Kenapa? Karena pada hari saat giliran sumur itu milik sahabat Usman bin Affan, ternyata sahabat Usman bin Affan menggratiskan air tersebut kepada semua penduduk Madinah. Karena pada dasarnya sahabat Usman bin Affan berprinsip bahwa beliau “menjual” hasil sumur itu kepada Alloh SWT dengan “keuntungan” 700 kali lipat berupa balasan shodaqoh. Dan mengharap surga sesuai janji Nabi Muhammad SAW. Penduduk Madinah termasuk kaum muslim yang berhijrah pun mengambil air sepuas-puasnya karena gratis, sehingga hari esoknya penduduk Madinah tidak perlu lagi membeli air lagi dari si yahudi saat tiba hari giliran si yahudi menjual air sumur. Tentu saja si yahudi jadi kebingungan dan merugi. Merasa kalah, si yahudi akhirnya menyerah, dia meminta sahabat Usman bin Affan untuk membeli semua kepemilikan sumur dan tanahnya. Tentu saja sahabat Usman bin Affan setuju dan akhirnya membeli seluruh sumur itu dan diwakafkan/diberikan semuanya untuk keperluan penduduk Madinah.

 Akhirnya, pada masa-masa berikutnya wakaf Usman bin Affan terus berkembang. Bermula dari sumur terus melebar menjadi kebun kurma yang sangat luas. Kebun wakaf Usman tersebut dirawat dengan baik semasa pemerintahan Daulah Usmaniyah (Turki Usmani). Saat Kerajaan Saudi Arabia berdiri, perawatan berjalan semakin baik. Alhasil, di kebun tersebut tumbuh sekitar 1550 pohon kurma. 

Kerajaan Saudi, melalui Kementrian Pertanian, mengelola hasil kebun wakaf Usman tersebut untuk dipergunakan sebaik-baiknya. Keuntungan uang yang didapat dari panen kurma dibagi dua; setengahnya dibagikan kepada anak-anak yatim dan fakir miskin. Sedang separuhnya lagi disimpan di sebuah bank dengan rekening atas nama Usman bin Affan. Rekening atas nama Usman tersebut dipegang oleh Kementerian Wakaf Saudi Arabia. Dengan dipegangnya pengelolaan oleh Kementerian Wakaf, maka kekayaan Usman bin Affan yang tersimpan di bank terus bertambah. Sampai pada akhirnya dapat digunakan untuk membeli sebidang tanah di kawasan Markaziyah (area eksklusif) dekat Masjid Nabawi. Di atas tanah tersebut dibangun sebuah hotel berbintang lima dengan dana masih dari rekening Usman. Melalui kontrak sewa, pendapatan tahunan yang diperkirakan akan diraih dari hotel tersebut mencapai lebih 50 juta Riyal (sekitar Rp. 175 Milyar, kurs 1 riyal = Rp 3.500). 

Pengelolaan penghasilan tersebut akan tetap sama. Separuhnya dibagikan kepada anak-anak yatim dan fakir miskin. Sedang setengahnya lagi disimpan di rekening Usman bin Affan. Uniknya, tanah yang digunakan untuk membangun hotel tersebut tercatat pada Dinas Tata Kota Madinah atas nama Usman bin Affan

Itulah “transaksi” antara sahabat Usman bin Affan dengan Alloh SWT. Sebuah “perdagangan” di jalan Alloh dan digunakan untuk Alloh SWT telah telah berlangsung selama lebih 1400 tahun. Berapa 'keuntungan' pahala yang terus mengalir deras kedalam pundi-pundi kebaikan Usman bin Affan di sisi Allah SWT? Subhanalloh…

Suatu cara pandang sahabat Usman Bin Affan yang jauh kedepan. Ia berkorban untuk menolong manusia lain yang membutuhkan dan ia menatap sebuah visi besar yang bernama Shadaqatun Jariyah, sedekah berkelanjutan. Sebuah shadaqah yang tidak pernah berhenti, bahkan pada saat manusia sudah mati.


Sumber : kabarmakkah, PPiyungan, google, wikipedia, dan sumber-sumber lain

Tidak ada komentar

Posting Komentar